Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Bakpia "Si Bulat" yang mendongkrak wisata kuliner Jogja

Bakpia "Si Bulat" yang mendongkrak wisata kuliner Jogja

Jogjakarta-KoPi| Sektor pariwisata menjadi salah satu sektor yang turut mengangkat nama Jogja. Sektor pariwisata Jogja setidaknya bertumpu pada hal-hal di antaranya yakni batik, kerajinan perak, dan bakpia.

Tetapi di antara ketiganya, bakpialah yang berhasil menjadi industri paling maju. Banyak yang menilai dari segi pendanaan, proses dan pemasaran bakpia lebih unggul. Sehingga industri bakpia cenderung lebih maju dari batik dan kerajinan perak. Industri bakpia yang menjamur di Jogja telah menyerap banyak tenaga kerja. Tidak sedikit karyawan bakpia yang akhirnya mendirikan usaha bakpia baru.

Salah satu pemerhati panganan tradisional, Eliver Sutrisno mengatakan makanan tradisional Jogja memiliki ratusan macam dari gudeg, wajik, wingko hingga lainnya. Namun hanya bakpia yang memiliki pemasaran yang bagus.

“Bakpia muncul itu pada tahun 1948, yang dibuat oleh bakpia 75 pendirinya Limboksing. Waktu itu bakpia belum seperti ini, dari semua panganan tradisional Jogja hanya bakpia yang dijual di toko-toko modern padahal berawal dari industri rumah tangga,” papar Eliver selaku pemegang bidang Akomodasi dan Publikasi di Bakpia 75.

Eliver Sutrisno mengharapkan ke depan panganan tradisional Jogja lainnya dapat mengikuti prestasi bakpia. Dirinya mengkhawatirkan panganan tradisional akan semakin terdesak dengan banyaknya makanan dan restoran  impor yang banyak berdiri di Jogja.

“Perlu membangun kesadaran tentang warisan budaya, di bidang pangan”, pungkas Eliver. |Winda Efanur FS|

back to top