Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Walikota Magelang dianggap anti tradisi karena membubarkan Pasar Pahingan

Walikota Magelang dianggap anti tradisi karena membubarkan Pasar Pahingan

Magelang-KoPi| Kota Magelang baru saja mendapatkan anugerah Adipura 2016 dari Presiden Jokowi. Namun, anugerah yang membuat walikota berbangga itu tidak membuat rakyatnya suka.

Pasalnya, tradisi pasar tiban, Ahad Pahing di depan Masjid Kauman Kota Magelang dibubarkan. Para aktivis #SavePahingan pun menuduhnya sebagai "Anti Tradisi."

"Hanya demi mendapatkan Adipura yang tak penting bagi rakyat, kecuali kepentingan pribadi, Sigit mengorbankan tradisi yang sudah berlangsung lebih dari 60 tahun." Kata Andritopo, aktivis savepahingan.

Belum cukup itu saja, kebijakan Walikota Magelang ini bahkan dicurigai sebagai tindakan yang ditumpangi kepentingan salah satu partai yang ikut mengusung Sigit menjadi walikota selama dua periode.

"Indikasinya jelas mengarah ke sana." Tambah Andritopo

Sementara itu, Walikota Magelang Sigit Widyonindito dalam keterangannya melalui WhasUp mengatakan tidak membubarkan tetapi hanya menata. Selanjutnya Sigit tidak bersedia memberi keterangan lebih lanjut dengan tidak membaca pertanyaan di WA..

Kritik para tokoh 

Kisruh tuntutan aktivis #SavePahingan atau Forum Masyarakat Peduli Pasar Pahingan Kota Magelang terus berlangsung. Para aktivisnya pun terus melakukan upaya agar Surat Edaran Kepala Dinas Pengelola Pasar Kota Magelang No. 511.3/271/260 Tanggal 9 Mei 2016 tentang pelarangan berjualan di lokasi pasar tiban dibatalkan.

"Ini bukan sekedar ekonomi, tapi mempertahankan tradisi yang sudah berlangsung lebih 60 tahun." Jelas Andritopo. " Pasar ini kan cuma 35 hari sekali, jadi tidak melulu soal ekonomi." Tambahnya.

Beberapa aksi mendatangi wakil rakyat juga sudh dilakukan. Sayangnya para nggota DPRD Kota Magelang lebih bersikap sebagai politisi yang berbicara normatif.

Kisruh tata ruang Kota Magelang ini pun mendapat simpati dari beberapa tokoh seperti Kyai, budayawan dan politisi lokal. Meskipun dukungan mereka belum memberi arti yang konkret bagi perubahan yang diinginkan, tetapi cukup memberikan semangat moral bagi para aktivisnya.

Para tokoh yang mendukung aktivis #savephingan ini antara lain Gus Yusuf, Gus Said, Gus Muna, Gus Ali, Gus Hendrik dari pra kyai. Sementara pendukung dari kalangan seni dan budaya diantaranya Sutanto Mendut, Dedy Irianto (Langgeng).

Dedy Irianto mengatakan seharusnya bila ingin menata kota pemimpin tidak boleh mencabut akar sejarahnya. Semua harus dibicarakan dengan masyarakat secara bottom up.

"Singapura itu adalah kota modern yang cerdas tapi menghargai sejarah dan tradisinya," kata Dedy.

Sementara Sutanto Mendut menyebut Kota Magelang kehilangan kecerdasannya karena bersikap ahistoris.

"Kota yang cerdas adalah kota yang tidak kehilangan sejarahnya."

Dalam kesempatan yang sama, Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang mengingatkan Sigit dan jajarannya agar bisa sinergi dengan warga Kabupaten Magelang. Karena kemajuan Kota Magelang juga karena dukungan warga Kabupaten Magelang.

"Jangan hanya bicara teritori semata." Kata Gus Yusuf.

back to top