Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Video Porno “Hentai” pengaruhi tingginya angka kehamilan tak diinginkan pada remaja Jogja

Video Porno “Hentai” pengaruhi tingginya angka kehamilan tak diinginkan pada remaja Jogja

Jogja-Kopi| Video Porno “Hentai” jadi salah satu pengaruh tingginya jumlah kehamilan tak diinginkan pada remaja di Yogyakarta yang mencapai sebanyak 686 kasus.

Ketua Youth Forum DIY, Ndaru Tejo Laksana, menjelaskan beberapa faktor penyebab jumlah kehamilan tak diinginkan pada remaja di Yogyakarta, salah satunya kebebasan mengakses internet dan kebebasan mengunduh film porno.

Sementara itu, Film porno bukan hanya mengarah pada film porno beraktor manusia. Namun, juga film porno dalam bentuk animasi.

“Video porno bermodelkan animasi juga mempengaruhi remaja unutk berbuat seks bebas,”ujarnya di kantor PKBI Yogyakarta, Kamis (6/4).

Film porno animasi disini merujuk ke satu genre film buatan negeri sakura yang lebih dikenal dengan nama “Hentai”.

Menurutnya bukan lagi hal baru bagi remaja untuk tertarik menonton hentai. Kebebasan mengunduh dan mengakses situs “Hentai” inilah yang kemudian menjadi permasalahan pada tingginya jumlah kehamilan yang tak diinginkan pada remaja.

Lanjutnya, meski hentai sendiri merupakan buatan murni imajinasi seseorang, namun beberapa remaja juga dapat tertarik dengan film porno ini.

“Ada remaja yang suka dengan animasi video porno. Nah, kesukaan setiap orang untuk menonton video prono itu berbeda-beda,ada yang suka dengan animasi dan ada yang suka dengan orang nyata,”jelasnya.

Tejo menambahkan film porno “Hentai” ini memang sudah ditangani oleh pemerintah pusat oleh Kominfo dengan menggunakan “internet Positif Indonesia”.

Meski demikian pembuat situs porno dengan genre “Hentai” masih saja dapat lolos dari Kominfo dan masih dapat memposting video tersebut.

“Tapi ya ada orang yang mencari pengahasilan lewat viewer (penonton) mereka juga tidak kalah akal, mereka bisa membuat website baru, dan blog baru, sehingga pembuat situs porno ini juga perlu ditangani serius oleh pemerintah,” pungkasnya.| Syidiq Syaiful Ardli

back to top