Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Tuna Rungu Total belum bisa mendapatkan SIM D

Tuna Rungu Total belum bisa mendapatkan SIM D

Jogja-KoPi|Dirlantas Polda DIY, AKBP Tb.M Faisal R mengatakan penyandang disabilitas tuna netra dan tuna rungu total belum diperkenankan untuk mengajukan SIM D. Pasalnya belum ada infrastruktur yang dibuat khusus untuk pengendara difabel serta adanya batasan minimal pendengaran bagi penderita tuna rungu. Sehingga pembuatan SIM D hanya diperbolehkan untuk penyandang tuna daksa dan tuna rungu yang tidak total.

“Untuk saat ini yang diperkenankan adalah penyandang tuna daksa dan tuna rungu yang tidak total dikarenakan para dokter belum bisa memperkirakan sampai mana batasan mereka yang tuna rungu total tidak dapat mendengar,” jelas AKBP Tb.M Faisal R, saat di wawancarai di Gedung Balaikota Yogyakarta, Senin (10/4).

Tuna daksa dan tuna rungu pun tidak serta merta mendapatkan SIM yang sama seperti yang non difabel. Faisal menjelaskan mereka akan mendapat SIM khusus difabel dengan jenis SIM D.

Bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan SIM D harus memenuhi syarat sama seperti pengendara non difabel dengan beberapa kemudahan. Seperti diperbolehkannya menggunakan kendaraan yang biasa mereka gunakan, baik sudah di modifikasi atau belum.

“Kami beri diskresi bagi mereka yang mengajukan sim D, mereka boleh menggunakan kendaraan sehari-hari yang biasa mereka gunakan. Namun, untuk ketentuan khusus yang menggunakan kendaraan khusus difabel belum ada, karena sampai ini belum ada yang mengajukan rencana pembuatan kendaraan khusus difabel di Dinas Perhubungan,” jelas Faizal.

Faizal juga mengatakan saat ini jumlah pengajuan SIM D penyandang disabilitas di Yogyakarta sudah banyak. Berdasarkan data pada tahun 2015, untuk wilayah Sleman terdapat 37 orang, Kota Yogyakarta 4 orang, Gunung Kidul 5 orang, Kulon Progo 14 orang, dan Bantul 9 orang.

Terkait infrastruktur yang mendukung pengendara disabiltas, dia mengakui sampai saat ini Indonesia belum bisa memfasilitasi hal tersebut. Tidak hanya itu, kendaraan yang dibuat khusus untuk pengendara difabel juga perlu dilakukan uji kelayakan sebelum bisa digunakan secara nasional .

“Terkait tuna rungu total yang mengajukan SIM D, akan kita teruskan dan diskusikan dengan pihak atasan kepolisian, bagi tuna rungu total yang ingin mendapatkan SIM D tidak mustahil unutk mendapatkan, tapi untuk saat ini belum bisa,”pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

 

back to top