Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Tahun Politik, Akun Buzzer di Media Sosial Bermunculan

Sleman-KoPi| Menjelang pilkada dan pilpres jumlah akun buzzer dan akun robot semakin banyal bermunculan. Umumnya akun ini menanggapi soal berita politik dengan mengutip sumber berita yang tidak jelas. Oleh karena itu warga net diharapkan lebih peka dalam merespon akun semacam ini sehingga diperlukan sikap lebih bijak dalam menerima, memproses, mengolah serta membagikan infomasi ke media sosial. Hal itu dikemukan oleh peneliti Center for Digital Society (CfDs) Fisipol UGM, Viyasa Rahyaputra, dalam menyampaikan hasil penelitiannya mengenai sentimen warga net terhadap isu UU MD3 di twitter dan portal Berita Daring, Senin (14/5) di Fisipol UGM.

 

 

Dalam penelitian CfDS terkait opini warga net terhadap revisi UU MD3 pda bulan Februari dan maret lalu, sebanyak 4605 tweets yang diketahui berkaitan dengan soal UU MD3. Namun dari jumlah tersebut sekitar 57 persen tweets tersebut diunggah oleh akun buzzer. 

“Hanya 43 persen tweets yang betul-betul opini,” katanya.

Pemilahan akun buzzer ini kata Viyasa dilakukan dengan melihat karateristik buzzes di twitter yang umumnya sumber identitas akunnya tidak jelas, lalu mengutip berita daring dari sumber yang dipertanyakan dan akun tersebut menangapi berita politik dari sumber yang tidak bisa dipercayakan kredibilitasnya.

Selain isi konten dan identitas akun yang tidak jelas, fenomena buzzer juga bisa dilihat dari aktifitas tweets yang dilakukan akun tersebut dalam setiap harinya yang dianggap tidak biasa. 

“Aktifitas tweet satu bulan saja bisa 423 ribu tweets jauh melebihi aktifitas normal,” katanya.

Fenomena ini menurutnya digunakan untuk menggangu lalu lintas informasi sehingga informasi negatif lebih banyak bermunculan di kalangan warga net.

"Tujuannya untuk mengganggu lalu lintas informasi,” katanya.

Meski demikian, kata Viyasa, untuk menggulangi fenomena akun semacam ini tidak mudah namun begitu warga net menurutnya lebih bisa mengolah informasi yang ada di media sosial untuk ditelaah lebih dalam sebelum mengunggah opini untuk menanggapi sebuah informasi.

Sehubungan dengan hasil penelitian mengenai sentimen opini warga net terhadap kemunculan UU MD3 pada buklan februari dan maret lalu, CfDS menemukan bahwa warganet twitter lebih banyak memberikan sentimen negatif terhadap isu UU MD3. 

“Sebanyak 69 % memberikan sentimen negatif, 29 % netral dan hanya 2 persen yag positif,” kata Lamia Putri Damayanti, peneliti CfDS lainnya.

Sementara dari 694 berita yang dikumpulkan dari 6 portal berita daring seperti CNN Indonesia, Kompas, Kumparan, Liputan 6, Merdeka, Sindo News dan Tribun news, diketahui terdapat 412 jumlah berita yang dinilai netral, 231 berita negatif dan 51 berita positif. Namun dari sumber portal daring, sentimen yang paling banyak dimunculkan oleh warga net adalah sentimen negatif. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

back to top