Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

PUSHAM UII : Usut tuntas kasus penggrebekan diskusi dan pameran karya Widji Tukul

PUSHAM UII : Usut tuntas kasus penggrebekan diskusi dan pameran karya Widji Tukul

Jogja-KoPi| Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (PUSHAM UII) menuntut kepolisian mengusut tuntas kasus penggrebekan diskusi dan pameran karya widji tukul setelah kemarin (8/5) sempat mendapat penggerebekan dari kelompok yang mengatasnamakan Pemuda Pancasila di PUSHAM UII.

 

Penggerebekan yang dilakukan oleh 20-25 orang terjadi pada pukul 14.10 WIB di kantor PUSHAM UII, Banguntapan, Yogyakarta, setelah sebelumnya mereka mendapatkan tamu yang mengatasnamakan Intel Polres Bantul pada pukul 10.00-12.00 WIB.

Menurut Eko Riyadi, Direktur PUSHAM UII, kelompok ormas tersebut menanyakan izin kegiatan. Namun karena kegiatan tersebut adalah kegiatan akademik maka menurut Eko tidak perlu izin.

"Diskusi adalah kegiatan akademik, sehingga tidak perlu izin. Organisasi kemasyarakatan pun tidak memiliki wewenang untuk menanyakan hal tersebut", jelasnya saat konferensi pers di kantor PUSHAM, Selasa (9/5).

Ia juga mengatakan sekelompok orang tersebut memaksa masuk dan merusak karya-karya yang dipamerkan milik Andreas Iswinarto yeng terinspirasi dari puisi Widji Tukul.

Terdapat 5 karya poster yang dibawa dari 15 poster, 1 poster rusak dan 4 puisi Widji Tukul yang dirobek.

Sementara, Adreas Iswinarto mengatakan ia sempat dicekik oleh salah satu anggota Pemuda Pancasila saat merebut kembali karya yang dirampas.

"Saya sempat dicekik saat mau mengambil kembali karya yang dirampas", jelasnya.

Tak hanya itu kelompok tersebut juga mengancam akan melakukan pembakaran di PUSHAM jika diskusi dan pameran tidak dibubarkan.

"Mereka bahkan mengatakan pameran dan diskusi ini harus bubar, jika tidak akan kami bakar semuanya", terang Eko.

Eko juga mengatakan pihaknya telah melaporkan kasus ini ke Polda DIY dan menunggu proses yang sedang berlangsung.

Menurutnya kasus penggrebekan tersebut merupakan kejahatan dan pelanggaran jaminan HAM yang tercantum dalam Pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, Pasal 19 ayat (1) dan (2) Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik sebagaimana telah diratifikasi dengan UU No 25 Tahun 2005, Pasal 28F UUD RI Tahun 1945, dan Pasal 14 UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

Untuk itu PUSHAM menuntut aparat Kepolisian Daerah DIY untuk mengusut tuntas dan menangkap pelaku penggrebekan, meminta Gubernur DIY untuk mengawal kasus ini, serta meminta Ketua Komnas HAM untuk memperhatikan kasus tersebut.

Selain, itu juga terdapat tuntutan lain, yaitu menuntut Ketua Komisi Kepolisian Nasional untuk melakukan pemeriksaan atas lambanannya atau indikasi pembiaran oleh Kepolisian Resor Bantul, serta meminta presiden RI untuk menegakkan konstitusi dalam hal kebebasan untuk berekspresi dan berpendapat.

"Kebebasan berpendapat dan berekspresi adalah kebebasan setiap manusia", pungkasnya.

back to top