Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

PSKK UGM: Indikator pembangunan DIY tidak jelas

PSKK UGM: Indikator pembangunan DIY tidak jelas

Sleman-KoPi|Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM melihat permasalahan kemiskinan, ketimpangan sosial, berbagai permasalahan di Yogyakarta disebabkan anomali indikator yang tumpang tindih. Direktur PSKK Agus Heruanto Hadna, mengatakan anomali indikator yang dimaksud seperti ketidaksesuaian indikator antarrasio dan angka di DIY.

Seperti angka kemiskinan DIY tercatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) DIY sebesar 488,83 jiwa, namun angka kesejahteraan hidup dengan usia hidup sampai 70 tahun untuk warga Yogyakarta.

“Berdasarkan data dari BPS Meski angka kemiskinan DIY tertinggi dibanding angka kemiskinan di tingkat nasional, namun angka harapan hidup, dan angka kesejahteraan, dan perkembangan manusianya lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya,”ujar Agus saat jumpa pers di PSKK UGM,Senin (15/5).

Agus melihat fenomena ini merupakan salah satu gejala dimana warga DIY sedang berusaha mencapai equilibrium atau kesetaraan antarindikator. Sementara untuk penyebabnya adalah kurang berfungsinya lima pihak pembangunan kota DIY yaitu Kampung,Kantor,kampus, ditambah Kraton dan Konglomerat.

“Kami kira lima pihak ini belum ada perannya dalam membangun jogja, sehingga yang terjadi pembangunan kota Yogyakarta menjadi tidak merata seperti pembangunan fisik berjalan cepat namun pembangunan masyarakat justru berjalan lambat,”lanjutnya.

Oleh karena itu, dalam rangka peringatan HUT PSKK ke 44 pihaknya berencana untuk menggelar seminar bertemakan “Ayo mBangun Jogja” pada Selasa 16 mei 2017 untuk menemukan solusi permasalahan ini.

Pihaknya pun akan mengundang Sri Sultan Hamengkubuwono, Sri Paduka Pakualaman, Rektor terpilih UGM Panut Mulyono sebagai pembicara seminar.

Sementara itu Ketua Seminar HUT ke 44 PSKK, Henny Ekawati mengatakan Sri Sultan akan menjadi pembicara utama (keynote speech) dalam seminar ini. Secara Umum, Sri Sultan akan menyampaikan pemaparan tentang arah, gambaran, dan program-program pembangunan.

Agus pun berharap dari seminar ini agar setiap pihak bisa menemukan fungsi masing-masing demi tercapainya equilibrium.


“Harapannya dari seminar ini agar bisa menemukan fungsi sebenarnya dari 5 K dan tercapai equilibrium, ”pungkasnya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top