Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pemkot Yogyakarta tidak akan terima masukan masyarakat sebagai pribadi

Pemkot Yogyakarta tidak akan terima masukan masyarakat sebagai pribadi

Jogja-KoPi|Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta hanya menerima masukkan dengan landasan yang kuat pada pembuatan kebijakan bukan pendapat pribadi atau persepsi.

Heroe menjelaskan landasan kuat disini adalah masukkan dari hasil penelitian akademis yang mengikuti metodologis yang benar bukan sekedar persepsi. Hal ini dilakukan dengan harapan agar Pemkot Yogyakarta tidak salah dalam mengambil kebijakan di waktu mendatang.

"Yang kita inginkan sebenarnya kebijakan publik harus ada arah yang jelas agar pemerintah tidak mengambil kebijakan yang salah,"ujar Heroe saat membuka Seminar Hasil Penelitian 2017 Bappeda Kota Yogyakarta,di kantor Dinas Perizinan Kota Yogyakarta, Senin (11/12).


Heroe mengimbuhkan bahwa masukkan persepsi ini tidak memiliki landasan kuat atau kejelasan data serta informasi yang tak terverifikasi dengan benar. Beberapa masukkan dari perorangan ataupun Lembaga Swadya Masyarakat (LSM) pada kota Yogyakarta pun dirasanya meragukan jika tak menghadirkan data dan permasalah yang spesifik.

"Ada yang mengatakan bahwa Jogja kota yang paling Intoleran dari 10 kota besar di Indonesia. Saya bersama Kota Yogyakarta mengucapkan terima kasih dan lebih bahagia, jika kami ditunjukkan faktor intoleransi ini dan rekomendasi nya apa. Tetapi kalau tidak jelas masalah dan dasarnya persepsi, kami susah menindaknya," imbuhnya.

Meski demikian, Heroe pun menuturkan Pemkot masih memerlukan masukkan dari berbagai pihak sebelum membuat kebijakan. Namun demikian,ia juga menekankan bahwa masukkan tersebut hasil dari penelitian faktual.

Tujuannya adalah Pemkot Yogyakarta ingin membuat kebijakan yang paling menguntungkan masyarakat serta didukung rekomendasi yang tepat.

"Makanya kami meminta kepada kominfo memantau opini masyarakat. Kami juga sempat menerima banyak masukkan masyarakat dari luar wilayah kota Yogyakarta, seperti Sleman,namun mereka sangat mengetahui Kota Yogyakarta,"tambahnya.

Kepada lembaga terkait, seperti Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta,Heroe meminta pula agar memberi masukkan lebih baik untuk kedepan,khususnya pada kejelasan Rencana Pembangunan Jangka Panjang ( RPJP)Kota lima (5)tahun kedepan untuk melihat gambaran pembangunan kota Yogyakarta.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top