Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Peluncuran sistem rehabilitasi pasien skizoprenia terintegrasi di DIY

Peluncuran sistem rehabilitasi pasien skizoprenia terintegrasi di DIY

Jogja-KoPi| Pusat kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan ( KPMAK) FK UGM bersama Johson&Johson menyelenggarakan seminar edukasi publik dengan tajuk "Sistem Rehabilitasi Pasien Skizoprenia Terintegrasi di DIY". Acara bertempat di Lantai Mezzanine, Hotel Santika, Yogjakarta pada Rabu(27/7).

Dr.Diah Ayu Puspandari, Apt, MBA, M.Kes, sekretaris eksekutif Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manejemen Asuransi Kesehatan (KPMAK), mengatakan berdasarkan kajian penanggulangan masalah kesehatan jiwa tidak saja hanya dari sisi fisik atau medis saja.

Rehabilitasi psikiatrik, psikososial, dan sosial perlu diterapkan, agar orang dengan skizoprenia(ODS) dapat kembali produktif dan berguna bagi masyarakat setelah dinyatakan sembuh. Untuk itu diperlukan sebuah sistem rehabilitasi yang komprehensif yang didukung oleh semua pihak terkait.

Sementara itu dr. A. Kusumaa Wardani Sp.KJ(K), Ketua seksi Skizoprenia Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menjelaskan bahwa skizoprenia adalah suatu kondisi dimana penderitanya mengalami delusi , halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku.

"Gejala skizoprenia dibagi menjadi dua kategori, kategori positif dan kategori negatif. Gejala Negatif skizoprenia menggambarkan hilangnya sifat dan kemampuan tertentu dalam diri orang yang normal. Sedangkan gejala positif menggambarkan tanda tanda psikotik yang muncul dalam diri seseorang akibat menderita skizopreni." Jelas Wardani.

skzis

Selain itu dalam upaya pengobatan gangguan kesehatan jiwa, diperlukan sebuah sistem yang komprehensif dan berkesinambungan sehingga dinyatakan sembuh dan kembali produktif. Pasien dan keluarganya harus dengan mudah mendapatkan informasi dan perawatan yang tepat.

Sementara Bagus Utomo, salah satu keluarga ODS, pendiri KPS mengatakan di Indonesia gangguan jiwa dipandang dengan stigma negatif. Informasi mengenai gangguan kesehatanjiwapun sulit didapat, sehingga pasien dan keluarganya menjadi frustasi.

"Perawatan yang tidak tepat, membuat pasen semakin parah," jelas Bagus Utomo, .
PT Johson &Johson Indonesia memandang kesehatan, baik mental maupun fisik, sebagai aspek yang sangat penting dalam kehidupan.

"Melalui peluncuran sistem yang telah dikaji oleh tim KPMAK FK UGM, bekerja sama dengan pemangku kepentntingan terkait di DIY, kami sebagai pihak swasta bersama sama dengan pihak praktisi kesehatan , pemerintah, asosiasi dan komunitas akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai gejala dan penanganan skizoprenia, serta mendampigi dan memberikan dukungankepada ODS sehingga mereka tetap memiliki martabat dan kembali produktif dalam masyarakat." Demikian Visnu Kaira, Managing Director PT. Johson& Johson Indonesia mengatakan.

back to top