Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Merapi Kembali Bergejolak, BPPTKG: Jeda Letusan Semakin Panjang.

Jogja-KoPi| Gunung Merapi kembali meletus freaktif pada Rabu (23/5) dini hari pukul 03.31WIB. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta pun menemukan bahwa letusan freaktif kali ini memiliki jeda letusan yang cukup panjang dibandingkan letusan sebelumnya.

 

Agus Budi Santoso, Kepala Seksi Merapi BPPTKG menyampaikan bahwa jeda letusan kali ini 26 jam dari letusan terakhir yang terjadi pada Selasa (22/3) pada pukul 01.47 WIB. Letusan sebelumnya terjadi dengan intensitas yang tinggi dengan durasi jeda terjadi letusan setiap 8 jam.

"Jeda erupsi kali ini cukup panjang ya dibandingkan kemarin. Sebelumnya tanggal 21 itu jedanya 8 jam, ini jedanya satu hari atau 26 jam. Dari sisi freaktif itu cukup panjang,"jelasnya saat ditemui di Kantor BPPTKG DIY.

Meski jeda terjadinya letusan freaktif cukup panjang, namun BPPTKG juga mencatat bahwa intensitas  gempa juga meningkat. Terhitung hasil pemantauan BPPTKG pada Selasa data kegempaan Multiphase (MP) : 2 Kali, Guguran (RF) : 1 Kali, Tektonik (TT): 2 Kali. Pada Rabu  dari pukul 00.00 sampai dengan 06.00, data kegempaan Vulkanotektonik dangkal (VT) 1 Kali, Tektonik (TT): 2 Kali.

"Kalau dari gempa itu cukup tinggi, kita menemukan adanya gempa Vulkanik tektonik yang menandakan adanya akumulasi tekanan gas yang cukup besar. Nah gempa Vulkanik Tektonik ini terjadi jika ada batuan yang pecah karena tekanan yang besar,"ujarnya

Agus pun belum bisa menyimpulkan apakah jeda letusan selanjutnya dapat berjeda panjang atau pendek. Namun, ia memastikan bahwa tekanan didalam Gunung masih cukup besar untuk dapat terjadi letusan freaktif selanjutnya. Hal ini dilihat dari Amplitudo atau magnitude didalam gunung dan kolom asap .

Berkaitan letusan pagi tadi, letusan pada Rabu dinihari juga teramati dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Jrakah dan Kaliurang. Durasi kejadian sendiri 4 Menit dengan tinggi kolom letusan 2000 M, dengan kolom letusan kearah Barat Daya. 

Dampak yang ditimbulkan atas Letusan Freatik ini adalah terjadinya Hujan abu di wilayah kabupaten Magelang terutama diwilayah KRB ll dan KRB lll ( Desa Keningar, Sumber, Dukun, Kalibening) dengan Jangkauan abu 25 km (sampai wilayah Borobudur) sesuai dengan informasi dari BPBD Kabupaten Magelang dan Pos PGM Ngepos. 

BPPTKG pun belum menemukan adanya temuan gempa Tremor yang menandakan aktifitas Merapi sejak Senin (23/5) lalu. Pihaknya pun belum bisa menyimpulkan apakah Magma merapi kembali seaktif saat letusan-letusan di tahun 2006,2010,2013.  

Tak hanya itu, BPPTKG juga belum melihat secara visual perubahan signifikan visual kawah dan kubah. Bentuk kawah dan formasi pun masih terbilang kecil.

"Tidak bisa kita menyimpulkan dalam beberapa jam apakah aktifitas merapi naik atau menurun. Jadi kita butuh waktu untuk mengumpulkan data. Kalau visual kawah dan aktifitas kubah tidak ada perubahan yang signifikan, jadi kalau dibandingkan letusan pada dulu tahun 2013, ini relatif kecil. Tapi yang perlu diwaspadai adalah itensitas letusan freaktif yang tinggi,"imbuhnya.

BPPTKG pun menghimbau dengan adanya status Gunung Merapi masih pada tingkat aktivitas WASPADA (Level II), maka Radius 3 Km dari puncak Gunung Merapi dibatasi untuk aktivitas penduduk. Penduduk yang tinggal dan beraktivitas diluar radius 3 Km dapat terdampak abu letusan namun tidak membahayakan Jiwa, masyarakat yang beraktivitas diluar ruangan diharapkan menggunakan masker.

Masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Merapi dihimbau untuk selalu meningkatkan kesiapsiagaan dan mengantisipasi bahaya abu. 

"Berkaitan jeda, letusan freaktif ini kita belum menemukan metode handal untuk memprediksi sehingga kita hanya bisa pantau terus. Yang perlu dipahami adalah letusan freaktif itu tidak berbahaya diluar radius KRB 3, radius 2-3 kilometer," pungkas Agus.

back to top