Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Menguak suksesnya Aksi Damai 212, perspektif urban design

Menguak suksesnya Aksi Damai 212, perspektif urban design

Jogja-Kopi| “Kebanyakan masyarakat melupakan urusan-urusan kota, seperti alasan mengapa memilih Jakarta, Monas-Bundaran HI sebagai tempat aksi merupakan hal yang tidak pernah dibahas,” Papar Wiryono Raharjo,M.Arch.,Ph.D dalam seminar nasional bertemakan “Aksi Damai 212, Tinjauan Sosiologi, Psikologi, dan Urban Design”di UGM, Sabtu (14/1).

Dalam kesuksesan aksi damai 212, Wiryono Raharjo menggunakan sebuah pendekatan ilmiah untuk menguaknya. Menurutnya keberhasilan dari aksi damai 212 juga dipengaruhi oleh urban design, sebuah bidang kolaboratif dari sosiologi, psikologi dan arsitektur. Bidang ini membicarakan ruang diluar bangunan, berkaitan dengan memahami ruang publik dan perilaku manusia.

“Jadi ketika bicara ruang diluar bangunan, kita harus memahami perilaku manusia ditempat itu, memahami perilaku manusia memang bagian dari psikologi, tapi kami arsitek harus mempelajarinya juga, tujuannya adalah menciptakan ruang-ruang yang nyaman,” Jelasnya.

Wiryono menjelaskan ada 3 konsep dalam urban design yang membantu aksi damai 212. Seperti Konsep urban semiotic, imageability, dan proximity, 3 konsep ini berubah menjadi media untuk menyampaikan pesan aksi. Urban semiotic sendiri merupakan istilah yang menjlskan tanda-tanda bangunan berbentuk build form atau bentuk bangun. Ketepatan tempat seperti Jakarta dan bangunan Monas juga mempengaruhi aksi damai 212.

“Bagaimana build form ini dapat dimengerti juga mempengaruhi pesan yang disampaikan, pesan itu bisa disampaikan dari tempat, tapi kalo kita salah tempat, pesan itu juga tidak akan sampai,” paparnya.

Selanjutnya Wiryono juga menjelaskan imageability yang mempengaruhi aksi damai 212, menurutnya imageability tidak bisa dilihat dari satu obyek saja, beberapa obyek kolektif juga mempengaruhi didalamnya. Sepertikota Jakarta yang mewakili sikap dari warga kotanya.

“Monas adalah salah satunya (imageability) dalam menunjukkan kekuatan dan identitasnya,” jelasnya.

Di sisi lain dalam Aksi 212, sendiri, Ahok dan Jokowi merupakan objek akksi. Menurut Wiryono, jika pesan semakin dekat dengan objek, maka semakin kuat pesan tersebut tersampaikan, sehingga proximity atau jarak mempengaruhi pesan.

Selain itu, secara sadar maupun tidak sadar, Bundaran HI dan Monas menciptakan sebuah efek yang bernama Amplifikasi. Amplifikasi disini, menurut kamus besar bahasa indonesia, adalah sarana dalam bahasa yang digunakan untuk memperluas, memperbesar, atau memberi tekanan pada suatu objek.

“Tanpa efek amplifikasi ini, pesan akan sulit tersampaikan,” jelasnya.

Dalam aksi 212,selain aksi ini sukses digelar dengan massa yang besar, ada beberapa hikmah yang bisa diambil dalam fenomena aksi ini, setidaknya dalam pandangan urban design.

“Kalo kita bisa mengendalikan massa sebesar itu pada aksi 212, mestinya kota-kota di Indonesia bisa menjadi kota-kota yang masuk ke level liveable, atau dapat dihuni,” ungkap pria kelulusan Melbourne University ini.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top