Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Mahasiswa UMY menciptakan inkubator alam

Mahasiswa UMY menciptakan inkubator alam

Jogja-KoPi│Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menciptakan inkubator alam sebagai salah satu inovasi dalam menanggulangi jumlah ketersediaan inkubator elektrik pada daerah 3T (Tertinggal, Terluar, dan Terdepan). 

Inkubator merupakan salah satu kebutuhan utama untuk bayi prematur. Namun, tak jarang inkubator di beberapa daerah di Indonesia tidak dapat digunakan karena belum terjangkau pasokan listrik dengan baik.

Berdasarkan data dari Kemeterian ESDM RI beberapa daerah yang belum terjangkau pasokan listrik degan baik yaitu seperti di kawasan Sumatera-Aceh, Sumatera Barat-Riau, Bangka, Sumarera bagian selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, serta Maluku.

Menurut Angga Ardinista salah satu seorang pencipta inkubator alam, daerah-daerah yang berada di kawasan-kawasan krisis listrik rata-rata termasuk daerah 3 T.

“Sehingga hal tersebut tentunya menjadi kesulitan tersendiri bagi rumah sakit jika ingin menyediakan inkubator untuk bayi prematur yang menggunakan tenaga listrik sebagai energi utamanya.

Tak hanya itu, harga dari sebuah inkubator yang dijual di pasaran juga relatif mahal, sehingga dapat menambah beban pengeluaran rumah sakit di daerah terpencil," tambahnya.

Sementara itu, kelahiran bayi prematur masih menjadi penyebab utama kematian bayi dan pneumonia (radang paru-paru) bagi anak di bawah 5 tahun.

"Selain itu, berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, Angka Kelahiran Bayi (AKB) di Indonesia adalah 34/1000 Kelahiran Hidup. Dalam hal ini persoalan fasilitas yang mendukung untuk pemenuhan kebutuhan bayi prematur menjadi hal yang sangat penting, seperti kebutuhan akan peralatan inkubator," jelas Angga.

Secara fisik, Inkubator Alam yang diciptakan oleh Angga beserta keempat temannya (Ferdy Winanta Eka Saputra, Yusuf Susanto, Dwi Verdi Firmansyah, dan Henri Yunanto Dwi Chahyo) tidak ada bedanya dengan inkubator bayi prematur yang ada di rumah pada umumnya.

Hal yang membedakan antara Inkubator Alam dengan inkubator rumah sakit, adalah terletak pada sumber energi yang dimiliki oleh keduanya. Menurut Angga, Inkubator Alam ini merupakan alat yang memanfaatkan energi matahari sebagai bahan bakarnya.

“Dalam pembuatan inkubator alam ini kami menggunakan solar water heater sebagai kolektor panasnya. Solar water heater tersebut kami peroleh dengan mengumpulkan energi panas matahari, yang kemudian digunakan untuk menaikkan temperatur ruangan Inkubator Alam yang disesuaikan dengan temperatur bayi," ujar Angga.

Dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energinya inkubator alam ini dapat membantu pemenuhan kebutuhan bayi prematur di daerah terpencil yang kesulitan pasokan sumber listrik.

“Selain itu, Inkubator Alam yang kami buat ini juga memiliki beberapa keunggulan, selain energi yang digunakan adalah Energi Terbarukan yakni energi matahari tanpa menggunakan listrik PLN, keunggulan lainnya dari Inkubator Alam ini yakni mudah untuk dibuat, dilengkapi dengan Air Flow Humidity, Controll Temperatur menggunakan Microcontroller, bisa menampilkan suhu di dalam inkubator menggunakan LED, dilengkapi dengan Alarm Indikator Error dan mode kontrol udara.

Harga pembuatan Inkubator Alam ini juga relatif terjangkau masyarakat dan ramah lingkungan karena menggunakan energi terbarukan. Dan jika diproduksi massal harganya tentu akan lebih murah," ungkap Agga.

Tak hanya itu, inkubator alam ini juga dilengkapi dengan sensor temperatur dan sensor kelembaban yang berguna untuk mengetahui temperatur dan kelembaban di dalam inkubator, jika temperatur naik beberapa derajat di atas temperatur bayi, maka otomatis katup pada pipa akan menutup, serta temperatur dalam inkubator akan stabil.

“Ini merupakan salah satu kelebihan yang dimiliki inkubator alam dibandingkan inkubator elektrik. Dengan adanya inkubator ini diharapkan mampu mengurangi jumlah kematian bayi prematur”, jelas Angga.

back to top