Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Dinas Kesehatan Yogyakarta serukan tolak jadi target industri rokok

Dinas Kesehatan Yogyakarta serukan tolak jadi target industri rokok

Jogja-KoPiDinas Kesehatan Yogyakarta dan jaringan Tobacco Control Yogyakarta peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang jatuh pada tanggal 31 Mei kemarin dengan kegiatan bertemakan Jogja Punya Warna, Run and Change Your Color, bertujuan untuk menolak rokok dan intervensi industri rokok, bertempat di Alun-Alun Utara Yogyakarta, Sabtu (4/6).



Jogja Punya Warna, Run and Change Your Color merupakan bentuk gerakan anak muda yang ingin Yogyakarta menjadi kota yang bersih, sehat, dan jauh dari intervensi rokok khususnya iklan rokok.

Menurut Yayi Suryo Prabandari, Ketua Quick Tobacco Indonesia Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, jumlah perokok bertambah tiap tahunnya, hasil survey kesehatan dasar yang dilakukan pada penduduk Indonesia usia 18 tahun keatas, menunjukkan bahwa 70% dari penduduk laki-laki yang ada Indonesia adalah perokok dan terdapat 8% perempuan Indonesia yang merokok.

Dari jumlah perokok tersebut kebanyakan adalah anak muda. Anak muda dijadikan target dari industri rokok baik melalui warna maupun bentuk-bentuk lainnya.
“Akhir-akhir ini sudut kota Yogyakarta banyak yang dibranding oleh sebuah produk industri rokok dengan icon show your color, untuk itu dengan kegiatan ini kita mulai untuk menyuarakan bahwa Yogyakarta memiliki warna sendiri dan tidak bisa diintervensi dan dibeli oleh industri rokok”, tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Yogyakarta, Drg. Ini Hikmatun,M.Kes, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama untuk mengurangi dampak buruk dari rokok.

“Kami bersama-sama mengurangi dampak buruk dari rokok, rokok tidak ada manfaatnya. Biaya yang dikeluarkan dari penyakit yang diakibatkan oleh rokok luar biasa, penyakit akibat rokok telah memenuhi BPJS kuota kita, sehingga kita harus mengambil kuota BPJS provinsi lain akibat dari penyakit tersebut,” jelasnya.

Drg. Ini Hikmatun,M.Kes dalam konfrensi pers juga mengajak seluruh masyarakat terutama anak muda yang menjadi target utama dari rokok untuk menyuarakan kebenaran dan menolak rokok. “Jangan memulai, karena mengakhirinya akan sulit. Mari kita bersama menyatu padu suarakan kebenaran dan tolak rokok”, tuturnya.

Dalam kegiatan ini juga dilaksanakan deklarasi dukungan generasi muda Yogyakarta dengan pembubuhan tanda tangan yang bertujuan untuk mendukung presiden Jokowi untuk segera merativikasi FCTC (frame work convention on tobacco control), mendukung Pemerintah daerah dan provinsi menerapkan regulasi yang tegas terkait kawasan tanpa rokok, mendukung Pemerintah Daerah dan Provinsi untuk membuat peraturan yang tegas dan ketat terkait dengan iklan, promosi, serta sponsorship industri rokok.

 

back to top