Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Diaspora merencanakan Bahasa Jawa Ngoko jadi bahasa pemersatu Suku Jawa Dunia

Diaspora merencanakan Bahasa Jawa Ngoko jadi bahasa pemersatu Suku Jawa Dunia

Jogja-KoPi| Seluruh masyarakat Jawa yang berkumpul pada acara Javanese Diapora Network III merencanakan bahasa Jawa Ngoko sebagai bahasa pemersatu suku Jawa di seluruh dunia.

Ketua Panitia, Javanese Diaspora Network III, Indrata Kusuma Prijadi, mengatakan bahasa Jawa ngoko dipilih sebagai bahasa pemersatu karena kemudahan penggunaannya.

“Mereka banyak yang bisa bahasa alus, tapi-kadang-kadang aturan yang banyak itu membuat susah. Di Bahasa Jawa sendiri ada batasan gak enak jika menggunakan bahasa ngoko dengan orang yang lebih tua. Kitamencoba melepas itu semua”, jelasnya.

Selain itu, Indrata juga mengatakan bahwa kebanyakan peserta Javanese Diapora Network yang berasal dari Meksiko, Belanda, California, Singapura, Malaysia, Australkia, Hongkong, Sumatera Utara, Tondanu, Lampung, dan daerah lainnya kebanyakan bisa menggunakan Bahasa Ngoko.

Sehingga Bahasa Ngoko akan mempermudah dan memperlancar komunikasi di antara mereka.

“Kita mencoba melepas itu semua, bukan mengowah-ngowahi, tapi kita mau agar komunikasinya lancar. Karena banyak dari mereka yang menggunakna Bahasa Ngoko”, kata Indrata.

Pertimbangan lain yaitu agar orang jawa menggunakan Bahasa Jawa daripada bahasa lain.

“Lebih baik kan menggunakan Bahasa Jawa, entah pakai kromo atau ngoko. Dan ada satu pemerstu di Bahasa Jawa yaitu Bahasa Ngoko. Dari pada mereka menggunakan bahasa Perancis, Belanda, Inggris, Suriname,Melayu kan malah lebih susah”, jelas Indrata.

Mengenai rencana tersebut, Indrata telah meminta izin kepada Ngarso Dalem dengan pertimbangan agar mereka bisa berkomunikasi.

“Mengenai rencana ini kami telah meminta izin ngarso dalem, dari pada kita tidak bisa ngomong satu dengan yang lainnya. Dan tanggapan Ngarso Dalem baik”, pungkasnya.

back to top