Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Bermodalkan Kepercayaan, Muhammadiyah Banyak Menerima Wakaf

Bermodalkan Kepercayaan, Muhammadiyah Banyak Menerima Wakaf

AMBON – Wakil Ketua Majelis Wakaf Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Amirsyah Tambunan mengatakan, hingga saat ini Muhammadiyah telah memiliki 22.562 Amal Usaha, yang sebagian besar berasal dari wakaf.

“Muhammadiyah hanya memiliki modal kepercayaan, sehingga banyak orang yang berkeinginan untuk mewakafkan, baik tanah maupun harta benda lainnya kepada Muhammadiyah,” terang Amirsyah, Rabu (22/2) dalam acara Rapat Konsolidasi Pra Tanwir Majelis Dikdasmen dan Wakaf Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Maluku yang bertempat di SMK Muhammadiyah Ambon.

Meskipun demikian, Amirsyah mengatakan masih cukup banyak kendala perwakafan di Indonesia. Pertama, masih lemahnya pemahaman umat Islam dalam pengelolaan wakaf, seperti adanya anggapan bahwa wakaf itu hanya milik Allah semata yang tidak boleh diubah atau diganggu gugat.

Kedua, masih belum adanya persamaan persepsi, peran dan sinergi para pejabat teknis wakaf di daerah dengan para pihak terkait terhadap upaya pemerintah pusat dalam upaya pengembangan wakaf.

Ketiga, nazhir masih kurang profesional, sehingga wakaf belum dikelola secara optimal. Posisi nazhir baik perorangan maupun lembaga menempati peran sentral dalam mewujudkan tujuan wakaf yang ingin melestarikan manfaat wakaf.

back to top