Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Kawasan Malioboro semakin nyaman

Kawasan Malioboro semakin nyaman

Mulai Senin, 4 Maret 2016 kawasan Maliboro Yogyakarta terlarang untuk parkir kendaraan bermotor. Semua kendaraan bermotor oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dialihkan atau dialokasikan di Taman Parkir Abu Bakar Ali. Kebijakan Wali Kota Suyuti ini memberikan harapan lebih baik dan menjadi solusi yang konstruktif atas semakin macetnya Kota Yogyakarta saat ini. Terutama di kawasan legendaris Malioboro.

Sebagai kawasan destinasi wisata utama, bertahun-tahun Malioboro mengalami keruwetan akibat macetnya jalan akibat pengadaan parkir di sekitar badan jalan dan pendestrian di sepanjang jalan. Macetnya jalan raya ini tentu sangat menganggu kenyamana para wisatawan yang bertujuan mendapatlkan kenyaman batin mereka. Akibatnya, sepanjang tahun orang mengeluh dan merasa kecewa dengan keadaan ini.

Keluhan ini tentu mengurangi daya tarik Malioboro dan Yogyakarta sebagai kota yang dikenal berbudaya dan "Istimewa".

Namun, dengan kebijakan baru Pemkot Yogyakarta ini, memberikan angin segar dan memulihkan suasana Yogyakarta pada posisi semula yang beradab dan nyaman. Masyarakat luas menjadi semakin merasakan hak publiknya. Berjalan leluasa di sepanjang pendestrian Malioboro. Secara bertahap tentu saja masyarakat juga berharap semua kebijakan ini bisa berlaku pada lokasi-lokasi lain yang rawan macet.

Kebijakan ini, sekali lagi pantas didukung dan diapresiasi dan semoga bisa menjadi dorongan bagi kota-kota di seluruh Indonesia yang tengah terancam ketidaknyamaman akibat tak terkendalinya jumlah kendaraan bermotor untuk melakukan hal yang sama.

Di sisi lain, masyarakat tentu juga berharap bahwa Pemkot Yogyakarta dapat melahirkan kebijakan lain seperti pengembalian identitas Yogyakarta sebagai Kota Budaya yang saat ini juga semakin hilang jati dirinya. Mengembangkan bangunan-bangunan berciri Yogyakarta asli. Dengan demikian, Yogyakarta yang "Istimewa" benar-benar Istimewa.

back to top