Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Kawasan Malioboro semakin nyaman

Kawasan Malioboro semakin nyaman

Mulai Senin, 4 Maret 2016 kawasan Maliboro Yogyakarta terlarang untuk parkir kendaraan bermotor. Semua kendaraan bermotor oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dialihkan atau dialokasikan di Taman Parkir Abu Bakar Ali. Kebijakan Wali Kota Suyuti ini memberikan harapan lebih baik dan menjadi solusi yang konstruktif atas semakin macetnya Kota Yogyakarta saat ini. Terutama di kawasan legendaris Malioboro.

Sebagai kawasan destinasi wisata utama, bertahun-tahun Malioboro mengalami keruwetan akibat macetnya jalan akibat pengadaan parkir di sekitar badan jalan dan pendestrian di sepanjang jalan. Macetnya jalan raya ini tentu sangat menganggu kenyamana para wisatawan yang bertujuan mendapatlkan kenyaman batin mereka. Akibatnya, sepanjang tahun orang mengeluh dan merasa kecewa dengan keadaan ini.

Keluhan ini tentu mengurangi daya tarik Malioboro dan Yogyakarta sebagai kota yang dikenal berbudaya dan "Istimewa".

Namun, dengan kebijakan baru Pemkot Yogyakarta ini, memberikan angin segar dan memulihkan suasana Yogyakarta pada posisi semula yang beradab dan nyaman. Masyarakat luas menjadi semakin merasakan hak publiknya. Berjalan leluasa di sepanjang pendestrian Malioboro. Secara bertahap tentu saja masyarakat juga berharap semua kebijakan ini bisa berlaku pada lokasi-lokasi lain yang rawan macet.

Kebijakan ini, sekali lagi pantas didukung dan diapresiasi dan semoga bisa menjadi dorongan bagi kota-kota di seluruh Indonesia yang tengah terancam ketidaknyamaman akibat tak terkendalinya jumlah kendaraan bermotor untuk melakukan hal yang sama.

Di sisi lain, masyarakat tentu juga berharap bahwa Pemkot Yogyakarta dapat melahirkan kebijakan lain seperti pengembalian identitas Yogyakarta sebagai Kota Budaya yang saat ini juga semakin hilang jati dirinya. Mengembangkan bangunan-bangunan berciri Yogyakarta asli. Dengan demikian, Yogyakarta yang "Istimewa" benar-benar Istimewa.

back to top