Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Jokowi harus menangkan pasar bebas untuk rakyat Featured

wikipedia.org wikipedia.org

Kita memasuki tahun 2015, dimana banyak persoalan menjadi demikian kompleks dan pelik bagi masyarakat Indonesia. Pada tahun ini pula kita mulai masuk dalam sebuah persaingan pasar global. Sebuah kompetisi yang bebas antar bangsa untuk berebut pasar. Pada Konteks ini, kita melihat bagaimana setiap negara di ASEAN dan dunia telah mempersiapkan diri agar bisa bersaing memasarkan produk-produk mereka di Indonesia. Bagaimana dengan kita?

Dalam kacamata kapitalisme, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa. Jika dihitung dengan asumsi setiap produk mendapatkan 10 persen dari setiap item kebutuhan hdup masyarakat, baik yang bersifat primer, sekunder ataupun tersier, prosusen sudah mendapatkan keuntungan yang banyak. Indonesia, adalah surga bagi para pedagang.

Dalam konteks kuantitas dan kualitas pasar indonesia, dalam catatan pemerintah SBY yang lalu terbaca kenaikkan kelas menengah Indonesia dari 37 persen di tahun 2004 menjadi 56,7 persen di tahun 2014. Mereka membelanjakan uangnya setiap hari berkisar 1- 20 $ US. Angka ini tentu sangat luar biasa indah bagi para produsen. Menggiurkan.

Kapitalisme sesungguhnya telah mempersiapkan sejak 40 tahun lebih, agar jumlah penduduk Indonesia yang besar efektif menjadi pasar bagi produk-produk mereka. Mereka bekerja sama dengan para komprador membangun hegemoni melaui nilai-nilai pragmatisme-hedonisme, pendidikan, ideologi, kebudayaan dan isu-isu humanisme yang mengagungkan individualisme semata. Dengan cara-cara seperti itu, pasar terbentuk.

Dari semua upaya itu, akhirnya kita merasakan fenomena pasar di masyarakat Indonesia. Dari fenomena itu pula kita menjadi memahami apa yang dikatakan Ardono dan Horkheimer bahwa masyarakat modern adalah kelompok masyarakat rasional yang irasional. Mereka ditandai dengan kegilaan belanja yang tidak menjadi kebutuhan. Membeli barang bukan untuk apa, tetapi untuk menjadi siapa. Melalui instrumen iklan, persepsi masyarakat dimanipulasi, dikaburkan dari realitas sebenarnya.

Kapitalisme membutuhkan keleluasaan atau kebebasan agar produk mereka bisa leluasa masuk dalam daftar kebutuhan masyarakat. Pasar bebas 2015  adalah puncak dari hegemoni lebih dari 40 tahun lebih itu. Mereka, para kapitalis global menjadi sangat siap dengan itu. Mereka siap dengan persaingan itu. Sementara kita tidak. Kita sibuk dengan urusan diri sendiri yang tak kunjung selesai. Masyarakat kecil tak mampu berdagang dan ketika ingin pun tidak memiliki akses modal. Mereka juga tak pernah bisa protes dengan kondisi mereka.

Kondisi inilah yang disebut Marc Blecher sebagai puncak yang ia sebut sebagai 'hegemoni pasar' dengan meminjam konsep Hegemoni dari Antonio Gramsci. Hegemoni pasar mengajarkan bahwa kelemahan, keterpurukan kondisi ekonomi seseorang adalah kesalahan diri sendiri dan harus diselesaikan sendiri secara individu, bukan secara kolektif. Inilah juga yang dimanfaatkan oleh kalangan tertentu, menyalahkan masyarakat.

Memasuki realita ini, apa yang paling penting bagi kita adalah komitmen membangun kekuatan bangsa kita agar mampu bersaing setidaknya di tanah sendiri. Untuk itu, sesungguhnya penting bagi kita semua untuk mengawal dan senantiasa kritis terhadap janji Jokowi yang mengatakan bahwa 2015 adalah tahun bagi Usaha Kecil Menengah (UKM).Kita harus pastikan bahwa Jokowi serius membangun sektor ekonomi riil yang selama ini terabaikan di dalam masyarakat. Kita harus mampu bersaing dalam sektor ekonomi riil dan berbasis rakyat.

Kita harus pastikan masyarakat mendapatkan akses modal yang cukup, jujur dan merata. Sebab, selama ini kita menyaksikkan program-program semacam KUR tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh Bank-Bank yang ditunjuk oleh pemerintah. Banyak Bank mempersulit masyarakat yang hendak mengajukan proposal usahanya dengan meminta jaminan -yang banyak masyarakat tidak mampu memenuhinya. Bahkan banyak Bank beralasan uang dari pemerintah untuk program itu sudah habis dan hanya tersisa uang Bank sendiri. Itulah mengapa mereka meminta jaminan berupa surat tanah atau motor.

Jika pemerintah serius dengan program ini, tentu mulai detik ini Jokowi harus pastikan bahwa masyarakat mendapatkan akses modalnya serta membangun capacity building mereka, skill dan sikap kemandirian yang terdampingi.  Kita tentu tidak rela, bila kita hanya menjadi pasar semata -kecuali memang mental kita adalah budak atau komprador yang rela menjual bangsa sendiri untuk asing.

back to top