Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir
(Dosen Sosiologi Unesa, kandidat doktor Sosiologi Pendidikan dan Kajian Pendidikan Tinggi
di USM Malaysia)

Judul buku : Higher Education In The Era of The Fourth Industrial Revolution

Penulis : Nancy W. Gleasson (editor)
Penerbit : Palgrave McMilan Singapore
Tahun Terbit : Cetakan Pertama, 2018
Tebal : ix + 229 halaman
E-ISBN :978-981-13-0194-0

 Dua dekade lalu, para pemikir dunia telah memproyeksikan realitas dunia yang sedang berubah. Misalnya, Giddens (1999) dengan konsepnya The Runaway world. Yakni, gambaran globalisasi di berbagai bidang kehidupan melalui gempuran televisi. Konsep The World is Flat yang dipopulerkan oleh Friedman (2005) menggambarkan terjadinya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, terutama jaringan nir kabel (internet). Kini, The Fourth Industrial Revolution menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dunia yang tak terduga.

Industrial Revolution 4.0 (Revolusi Industri/R.I ke-4) atau disebut dengan The Fourth Industrial Revolution (4IR) sering diperbincangkan dalam berbagai forum. Bukan hanya di kalangan para pebisnis, pemerintah, kampus, pers, NGO, melainkan juga di kalangan rakyat. Hal ini menunjukkan bahwa 4IR dianggap sangat penting bagi kehidupan manusia. Tak terkecuali bagi masa depan pendidikan tinggi/universitas.

Pendiri sekaligus eksekutif World Economic Forum (WEF), Klaus Schwab mengatakan bahwa saat ini kita hidup di awal revolusi yang secara radikal mengubah cara hidup, bekerja, dan berinteraksi satu dengan lainnya. Revolusi industri sebelumnya membebaskan manusia dari kekuatan hewan, memungkinkan produksi massal dan membawa kemampuan digital ke miliaran orang. Revolusi industri Keempat ini, bagaimanapun, berbeda dengan sebelumnya. Hal ini ditandai oleh berbagai teknologi baru yang menggabungkan dunia fisik, digital dan biologis. Bahkan, telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri, pendidikan, hingga ide-ide yang menantang tentang arti menjadi manusia.

Merespon wacana revolusi industri keempat, buku yang berjudul Higher Education in The Era of the Fourth Industrial Revolution ini sangat relevan untuk didiskusikan. Karya yang berasal dari kumpulan tulisan ini disunting oleh Nancy W. Gleasson, seorang dosen senior di Yale-NUS College Singapore. Ia mempunyai minat penelitian globalisasi, pendidikan tinggi, dan revolusi industri ke-4. Dalam buku ini ia menulis pengantar panjang sekaligus satu bab buku tentang sistem pendidikan tinggi Singapura di era revolusi Industri ke-4.

Revolusi Industri Ke-4

Secara historis, revolusi industri telah terjadi beberapa kali dalam sejarah manusia. Revolusi industri pertama muncul pada tahun 1780-an yang ditandai dengan penemuan mesin uap yang mampu melipatgandakan tenaga manusia. Revolusi kedua terjadi pada tahun 1870-an yang ditandai dengan perkembangan tenaga listrik yang berhasil menciptakan produksi massal. Dilanjutkan revolusi industri ketiga yang menggabungkan elektronik dan teknologi informasi untuk mengotomatisasi produksi agar lebih efisien. Kini, kita berada pada era revolusi industri keempat yang dilandasi revolusi sebelumnya. Yakni, perpaduan teknologi yang mengkaburkan garis batas antara bidang fisik, digital, dan biologis.

Schwab memandang ada tiga alasan mengapa transformasi radikal bisa terjadi saat ini. Kedatangan R.I ke-4 ini karena faktor kecepatan, ruang lingkup, dan dampak sistem. Kecepatan terobosan saat ini tidak memiliki preseden historis. Dibandingkan revolusi industri sebelumnya, R.I ke-4 ini bergerak dan berubah pada kecepatan eksponensial dan bukan linier. Kondisi ini mengejutkan hampir setiap lini industri di setiap negara. Luasnya dan kedalaman perubahan ini mendorong terjadinya transformasi pada seluruh sistem produksi, manajemen, pemerintahan, dan dunia pendidikan.

Perkembangan teknologi digital yang semakin canggih, robotik, kecerdasaan buatan (Artificial Intelligence), the Internet of things (IoT), 3D-Printing, nanoteknologi, dan bioteknologi ikut menggerakkan percepatan R.I ke-4. Teknologi mutakhir tersebut mempengaruhi segala macam dimensi kehidupan manusia masa kini, terutama di bidang ekonomi dan bisnis. Muncul berbagai macam jenis bisnis yang digerakkan teknologi mutakhir yang bersifat disruptif , salah satunya sharing or on demand berbasis aplikasi ala Uber, Grab, dan Gojek.

Disrupsi bukan hanya terjadi dalam bidang bisnis, tapi juga merambah ke dalam dunia pendidikan tinggi. Melalui teknologi digital muncul inovasi perkuliahan online, seperti Massive Online Open Courses (MOOC) yang diselenggarakan oleh edX, Udacity, Future Learn, Iversity dan yang sejenis. Teknologi baru digital dan turunannya melahirkan berbagai macam inovasi yang mempengaruhi pendidikan tinggi. Di sisi lain, pendidikan tinggi juga mendapat berkah dengan munculnya teknologi yang membantu menata, menyimpan serta mendistribusikan data digital ilmu pengetahuan dalam jumlah besar.

Pentingnya Liberal Arts

Pendidikan tinggi memiliki peran strategis mempersiapkan masyarakat agar mampu beradaptasi terhadap perubahan yang diakibatkan oleh R.I keempat. Meski harus diakui, secara umum pendidikan tinggi saat ini didesain dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat era R.I ketiga.Yaitu fase ekonomi yang menekankan pada kekuatan produksi massal yang digerakkan teknologi elektrik. Sehingga, sistem pendidikan tinggi terlihat tidak sesuai dengan sistem ekonomi yang serba terdigitalisasi dan mengalami otomatisasi (hlm. 5). Oleh karena itu, pendidikan tinggi harus segera melakukan perubahan sekaligus beradaptasi dengan kehidupan masyarakat di era R.I keempat ini.

Pendidikan tinggi mempunyai tanggungjawab mempersiapkan pengetahuan dan kemampuan kepada mahasiswa agar produktif dalam kehidupan. Bukan hanya pada bidang yang mereka ambil, tapi juga pada internalisasi kesadaran bahwa mereka adalah pembelajar sepanjang masa. Dengan harapan, mereka akan selalu siap untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan yang cepat dan kadang tidak bisa diprediksikan. Penyadaran akan pentingnya menjadi pembelajar sepanjang masa bukan hanya tanggungjawab kampus, tapi juga pemerintah dan institusi industri.

Menghadapi R.I keempat ini, pendidikan Liberal Arts akan sangat dibutuhkan oleh individu agar mengembangkan fleksibilitas kognitif sebagai salah satu ciri pembelajar sepanjang hayat. Hal ini akan memudahkan setiap individu untuk belajar kemampuan baru, menerima pendekatan-pendekatan baru, serta menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang ada (hlm. 15).

Zakaria, dalam In Defense of a Liberal Education (2015), menegaskan bahwa melalui pendidikan Liberal Arts dapat menginstegrasikan atau menghubungkan secara intrinsik dan sistematis antara sains, ilmu sosial, dan humaniora. Dengan bekal pendidikan tersebut mahasiswa tak akan mudah menyerah dalam menghadapi segala perubahan, dan akan selalu siap sedia melakukan perubahan dengan gagasan dan ide baru. Kemampuan membaca, berargumentasi, dan menuangkan dalam bentuk tulisan adalah salah satu aspek dari kekuatan Liberal Arts Education (Oey-Gardine dkk, 2017).

Berangkat dari realitas itulah, Singapura bersemangat untuk mendirikan Yale-NUS College yang bertujuan membekali generasi muda dengan pendidikan liberal Arts. Dengan harapan dapat membentuk karakter melalui interaksi dalam komunitas yang berasal dari berbagai disiplin dan pandangan. Mereka menyadari bahwa awal perkembangan industrialisasi Singapura pendidikan teknik atau vokasi sangat penting mendukung perekonomian negara.

Tetapi, kini negara kota ini telah menjelma menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Demikian pula, aspirasi warga negaranya pun semakin kompleks dengan keanekaragaman latar belakang mereka. Maka, ketika mempersiapkan para pembelajar dengan satu atau beberapa pekerjaan saja semakin tidak masuk akal di era sekarang (hlm. 16). Pengampu kebijakan Singapura sadar perlunya memperkuat soft skill, fleksibilita,s dan kreativitas melalui pendidikan liberal arts.

Bukan rahasia lagi bila dalam beberapa test kemampuan akademik pelajar umur 15 tahun yang dilakukan PISA misalnya, negara-negara di Asia (Singapura, Hongkong, dan China) menempati urutan teratas. Tetapi, ketika berbicara tentang penemuan dan kreativitas dalam beberapa dekade terakhir ini justru banyak berasal dari Amerika Serikat. Inilah yang membuat gusar pengambil kebijakan Singapura untuk mencari tahu titik masalahnya.

Ternyata, jawabannya terletak pada kekuatan pendidikan Liberal Arts yang mendorong mencuatnya tradisi berfikir kritis dan kreatif. Hal ini diakui oleh Steve Jobs, sang pendiri Apple. Menurutnya, teknologi saja tentu tidak cukup. Teknologi yang dikawinkan dengan liberal arts, teknologi yang dikawinkan dengan humaniora mampu mengantarkan bangsa kita meraih hasil sangat memuaskan (hlm. 22).

Mobilitas Pendidikan

Mobilitas dan transnasionalisasi pendidikan menjadi salah satu isu penting di era R.I keempat. Mobilitas seseorang memperoleh pendidikan lanjut ke luar negeri bukan hanya dalam rangka meraih pengetahuan dan kemampuan. Tetapi juga, meningkatkan modal sosial dan budaya ketika kembali ke negara asal. Pada bab tiga diuraikan fenomena banyaknya mahasiswa India yang melanjutkan studi kedokteran dengan pengantar bahasa Inggris di Cina. Mereka berharap mendapatkan nilai lebih ketika studi lanjut di perguruan tinggi non-unggulan Cina.

Kenyataanya, tidak sesuai harapan. Kebanyakan mahasiswa India yang mengambil kedokteran ternyata harus belajar bahasa Cina yang justru menambah beban. Beban bahasa ini menimbulkan diskriminasi rasial. Karena, membuat mahasiswa India terisolasi di tempat belajarnya. Hal ini juga yang mendorong mereka minim berinteraksi dengan masyarakat lokal Cina. Untuk memenuhi kepuasaan kebutuhan proses belajar mahasiswa India, maka sejumlah universitas Cina memperkerjakan dosen yang memiliki latar belakang India.

Lagi-lagi, mahasiswa India keberatan bila dosen Cina menggunakan silabus Cina, dengan alasan tidak membantu mereka ketika nanti mengkuti ujian dokter saat kembali ke India. Hambatan budaya ini menyebabkan mahasiswa India tidak dapat mengambil manfaat secara optimal ketika melakukan praktik di rumah sakit di Cina. Situasi inilah yang diamati oleh Peidong Yang dan Yi’En Cheng. Kajiannya justru menunjukkan bahwa mahasiswa India yang ekonomi pas-pasan melakukan mobilitas ke kampus non-unggulan karena alasan kedaulatan budaya mereka (hlm. 52).

Perpustakaan 24 Jam

Buku ini juga menyinggung perkembangan perpustakan perguruan tinggi di masa depan. Selama ini muncul anggapan bahwa perpustakaan merupakan jantungnya universitas. Ia merupakan manifestasi laporan kesarjanaan, budaya riset, dan aktivitas ilmiah lainnya. Semakin besar dan luas bangunannya, diasumsikan semakin besar pula koleksinya. Di era digital, perpustakaan berbasis koleksi (Collection-Based Learning) memang bermanfaat, tapi tak cukup memenuhi kondisi zaman. Sehinga, dibutuhkan perpustakaan digital yang berbasis pelayanan (Service-Based Library) yang bisa diakses kapan dan oleh siapa saja.

Dempsey dan Malpas melihat bahwa perpustakaan kampus mengalami diversifikasi dalam bentuk, peran, dan fungsinya. Hal ini dipengaruhi oleh identitas universitas yang menjadi induknya (hlm. 86). Kampus yang dikenal sebagai universitas riset, selain berbasis koleksi juga diperkuat dengan bentuk pelayanan digital. Pelayanan perpustakan yang diberikan terkait data riset, informasi riset, analisis dan visualisasi data, serta infrastruktur peminjaman yang lengkap sekaligus mudah.

Berbeda dengan kampus yang menekankan pada pengajaran Liberal Arts. Perpustakaannya berbasis pelayanan e-portofolio, sumber-sumber pembelajaran terbuka, dukungan untuk desain instruksional, koleksi terintegrasi dengan berbagai kampus dan perpusatakaan lainnya. Dengan demikian, perpustakaan bukan perkara karir atau pembagian kerja birokrasi perpustakaan, tetapi sarana promosi pendidikan dan berbagi ilmu pengetahuan yang terbuka bagi siapa saja.

Pesan singkat adalah pendidikan tinggi harus sigap dan adaptif terhadap perubahan. Termasuk, menyambut kedatangan R.I keempat ini yang tak bisa dibendung lagi. Tentu, bukan sekedar mengekor. Tetapi, pendidikan tinggi kita harus menjadi pelopor menghadapi tantangan perubahan zaman tanpa melupakan aspek kemanusiaan.

 

back to top
UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen Sosiologi Unesa, kandidat doktor S...

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...