Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

sumber gambar:Lifehacker sumber gambar:Lifehacker

Anang Hermansyah, anggota DPR RI komisi X, boleh jadi tidak bersalah perihal kontroversi RUU permusikan. Beberapa hari terakhir ini RUU permusikan memang menjadi sorotan publik. RUU permusikan ini bermula saat pertengahan tahun lalu Kami Musik Indonesia (KMI) melakukan proses audiensi di DPR RI.

 

Diketuai Glenn Fredly, KMI mengusulkan terciptanya payung hukum bagi dunia musik dalam negeri. Dari sanalah gagasan naskah akademik dibuat dan disodorkan. Sehingga, berjalannya waktu jadilah RUU permusikan yang ada sekarang. Tragisnya, sebagian besar pasal-pasalnya dapat menjadi bumerang. Berharap dunia permusikan dilestarikan justru akhirnya akan memakan banyak korban.

Pada Bab II mengenai kegiatan permusikan ditemui sejumlah pasal yang janggal. Pasal-pasal yang berkaitan dengan kegiatan reproduksi dan distribusi. Kedua kegiatan ini dibangun berdasarkan etika ekonomi. Secara Sosiologis, etika ekonomi dapat dibaca melalui karya termasyur Weber (1992). Menurutnya, etika ekonomi tidak bisa dilepaskan dari aktivitas sosial dan spirit materialisme.

Stratifikasi sosial dan logika kerja masyarakat modern itu dibingkai dalam organisasi formal kapitalisme. Sehingga, rutinitas manusia ditundukkan ke dalam sistem kebutuhan palsu material dan pertukaran kapital. Bahkan, keselamatan dunia akherat sebagai doktrin agama pun bisa ditempuh dengan jalan transaksional. Di sinilah pesona dunia manusia yang kaya intuisi, empati, serta saling memahami dari hati ke hati menjadi pupus. Dibutuhkan manusia ‘panggilan’ berjiwa asketis supaya pesona dunia itu terus menyala.

Etika kerja berbasis kapitalisme semacam itulah yang rasa-rasanya akan diterapkan di dunia permusikan kita. Diferensiasi kerja di kalangan para musisi Indonesia sengaja dibuat terstatifikasikan. Persis cara kerja industrial dan perpabrikan yang terpola berdasarkan pemilik modal dan buruh. Lalu siapa yang sangat diuntungkan ? Tentu saja bukan buruh sebagai lapisan terendah dalam stratifikasi sosial kapitalisme. Dalam kapitalisme musik, mereka yang melongo dan gigit jari karena tak memiliki akses ke industri musik adalah buruh musik.

Kesalahan fatal cara berpikir manusia modern adalah modal selalu berkaitan dengan aspek ekonomi. Padahal, Bourdieu (1986) dengan tegas menolak bahwa modal bukan perkara uang. Kredit dan obligasi sosial yang tak kalah pentingnya bagi dunia kehidupan adalah modal kultural dan sosial. Modal kultural berkaitan dengan sesuatu yang menubuh (embodied form) dan kualifikasi pendidikan. Perasaan, pikiran, spirit, hasrat, gerak tubuh, kesadaran dan apapun yang melekat di tubuh manusia adalah modal budaya. Begitu pun dengan kualifikasi pendidikan yang membentuk pengetahuan yang spesifik di dalam diri seseorang.

Modal sosial berkaitan dengan keanggotan dan perwakilan kelompok sosial. Relasi sosial dan hubungan bersifat kekeluargaan di antara jaringan keanggotan itu menjadi krusial. Tak ada satupun manusia di dunia yang tidak memiliki ikatan sosial. Baik kekeluargaan, pertemanan, dan keakraban satu dengan lainnya.

Kedua modal inilah yang seringkali luput memahami dunia permusikan. Barangkali pengusul, perancang maupun pembuat RUU permusikan lupa diri. Karena, artis ternama tak akan besar tanpa kelompok pencinta karyanya. Jika urusan reproduksi distribusi saja diregulasi secara ketat, bahkan diancam hukuman segala, maka mereka akan kehilangan penikmatnya.

Memang ada baiknya juga hal semacam itu dikonstitusikan. Karena, masyarakat justru akan semakin kreatif dan produktif dalam berkarya. Karena, mereka sudah memiliki modal budaya musik sejak mengenal dunia. Kebiasaan orang tua misalnya, melantunkan sebaris nyanyian pengantar tidur bagi anak-anaknya. Itu menjadi bagian kualifikasi pendidikan yang tak ternilai harganya.

Perkenalannya dengan nada dan alat musik juga bukan berawal dari sekolah formal musik. Hubungan pertemanan telah membuat mereka memiliki pengetahuan musik. Bagaimana mungkin hal semacam ini dikonversikan ke dalam transaksi dan etika ekonomi musik ? Sungguh di luar nalar.

Melalui RUU permusikan kita setidaknya bisa memahami satu hal. Yakni, etika ekonomi yang diracik dari ‘darah kotor’ kapitalisme barat telah mendarah daging ke dalam dunia permusikan tanah air. Kalau kita ingin sedikit berkata jujur dan lapang dada sesungguhnya unsur-unsur negatif budaya asing di dunia permusikan adalah ulahnya. Untuk menggambarkan industri musik semacam ini tepat kiranya mengingat kembali lirik lagu Angkara Power Metal.

... itu ulahmu karena kau perkasa

Gejolak jiwamu itu ambisi

Tak pedulimu adalah derita

Kau tebarkan benih kehancuran ...

Referensi:
Max Weber, 1992. The Protestant Ethic and the Spirit Capitalism, London and New York: Routledge
Pierre Bourdieu, 1986. The Form of Capital, in Richardson (ed.), Handbook of Theory of Research for Sociology of Education (page 46-58), USA: Greenword Press

Ardhie Raditya, Sosiolog kajian budaya permusikan, peneliti di pusat studi perubahan sosial dan media baru Sosiologi Unesa

 

back to top
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

Anang Hermansyah, anggota DPR RI komisi X, boleh jadi tidak ...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen Sosiologi Unesa, kandidat doktor S...

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...