Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Perdebatan sampah versus transformasional Featured

Perdebatan sampah versus transformasional
Perdebatan, sebagai salah satu bentuk konflik, selalu terjadi di dalam dunia hidup sehari-hari (lebenswelth) dikarenakan perbedaan tafsir, persepsi, dan kepentingan terhadap apa yang disebut sebagai realitas sosial. Individu dan jejaring pengetahuannya mendefinisikan obyek di hadapannya menurut apa yang diketahui dan diingini.Perdebatan tentang kebudayaan, keagamaan-teologis, pilkada, harga BBM, kebijakan pendidikan atau figur adalah bagian dari dunia hidup sehari-hari tersebut.

 Oleh: Novri Susan (Sosiolog Universitas Airlangga)


Perdebatan publik (public discourse) merupakan mekanisme alamiah dalam konteks masyarakat yang saat ini makin bertumpu pada kreasi dan reproduksi kata-kata untuk rumah peradabannya. Sehingga perdebatan adalah fenomena yang tidak perlu dipandang sinis, apalagi tebar kebencian. Tulisan ini bermimpi bisa mengembalikan carut marut perdebatan yang kolokan dan tajam kepada keseimbangan secara reflektif dan meditatif.

Pertama, saya ingin memaparkan catatan personal saya tetang etika wacana publik dalam akar sistem kehidupan keindonesiaan. Etika perdebatan publik berakar pada kesadaran kolektif tentang pentingnya menghormati dan menghargai subyek lain. Akar kesadaran tersebut membawa pada tujuan keselarahan, harmoni, dan nir-kekerasan pada setiap situasi konflik atau perdebatan publik. Maka, saya, apabila memiliki etika ini, melakukan perdebatan dengan selalu menghormati dan menghargai.

Penghormatan dan penghargaan memiliki makna bahwa subyek individu lain memiliki hak sama untuk berkomunikasi, berbicara dan memperlihatkan konten wacana tentang isu-isu tertentu. Hal tersebut berarti saya, atau Anda, perlu juga mempraktikkan dengar wacana tersebut. Mendengarkan hanya bisa dilakukan oleh individu yang memiliki etika, bisa menghormati dan menghargai subyek individu lain.

Jika Kabayan sedang berbeda pendapat dengan Iteung, keduanya terikat oleh etika sosial perdebatan. Sebab Kabayan dan Iteung sama-sama berada di bawah payung sistem kehidupan di wilayah Indonesia. Etika tersebut juga harus dipraktikan oleh para wakil rakyat, pejabat negara sampai para aktivis demokrasi. Sehingga, perdebatan bukan merupakan proses saling meniadakan, namun dialektika seni (ilmiah sekaligus nurani).

Dialektika seni adalah proses pembuktian nalar argumentasi dengan pembuktian ilmiah dan konten kemanusiaan agar mencapai kebaikan umum (common bonum). Namun dialektika seni tidak akan pernah terjadi dalam bentuknya yang damai, harmoni, dan nir-kekerasan jika etika dari sistem kehidupan bersama ditanggalkan.

Kedua, saya perlu menyampaikan pentingnya komitmen kualitas wacana. Komitmen terhadap kualitas wacana berarti kesungguhan memasukkan konten yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah sekaligus kemanusiaan. Ruang publik saat ini seperti di twitter atau facebook komitmen kualitas wacana tidak berbanding lurus dengan tingkat keras kepala mempertahankan pendapat. Selain itu, ada juga individu-individu yang memainkan diri sebagai spoiler.

Spoiler berarti perusak, pembusuk, atau peracun yang menuangkan wacana-wacana palsu, dangkal, dan asal berbeda dengan kelompok yang tidak disuka. Akibat wacana spoiler seringkali substansi wacana mengalami pengaburan atau distorsi. Sebut saja perdebatan mengenai kebijakan pernikahan beda agama. Spoiler akan menghadirkan wacana yang tidak membahas alasan-alasan kebijakan tersebut namun menciptakan wacana kecurigaan, kebencian, atau intimidasi terhadap agama-agama berbeda.

Distorsi wacana akan membawa para individu di perdebatan ruang publik pada kondisi kesurupan atau ketaksadaran terhadap substansi masalah. Oleh sebab itu banyak kemarahan bergerombol, saling sahut dan bisa berakhir pada pertikaian berdaarah.

Etika dan komitmen kualitas wacana merupakan dua konsep pengetahuan yang bisa menciptakan harmoni. Perdebatan akan menjadi dialektika seni, bukan pembusukan-pembusukan ruang publik. Sehingga, perdebatan wacana di ruang publik menjadi materi yang mentransformasi, dari nasib buruk kepada nasib baik, dari penindasan kepada keadilan. | Sumber artikel: www.novrisusan.com

back to top
UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen Sosiologi Unesa, kandidat doktor S...

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan Suhu u...

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

SURABAYA PARADOK: KEBRINGASAN MASYARAKAT KONSUMSI

Saat pesta ulang tahun Surabaya yang ke-724 lalu, saya terma...

TERORISME LAPIS LEGIT

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia...

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi...

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres tanpa keputusan pengadilan

Presiden tidak bisa bubarkan ormas dengan keppres …

Profesor Jimly Asshiddiqy kemarin menyarankan agar Presiden ...

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa ...

Kampus yang Licik

Kampus yang Licik

Di tengah momentum hari pendidikan nasional (Hardiknas), per...

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Pesan singkat Paulo Freire untuk kita

Menurut Freire, sebagian besar manusia di dunia berada dalam...